MalamQ di Asmara_eh Asrama Pondok Indah

Juni 4, 2008 pukul 4:03 pm | Ditulis dalam ceR_pen, Uncategorized | Tinggalkan komentar

MALAM ITU AKU MASIH SELAMAT

Hujan rintik-rintik sedari tadi tak henti-hentinya mengguyur asrama tempatku menuntut ilmu selama ini. Bintang-bintang tak tampak semburatnya. Bulan malu untuk menampakkan paras cantiknya. Tikus-tikus malas untuk bermain. Ah.. Begitu juga aku, malas tuk mengulangi pelajaran tadi siang …

Ku tengok jam dinding berhiaskan biji-bijian yang membentuk tulisan SAMUDRA itu. Ah… jarum jam telah menunjuk angka 10 dan sebelas. Sebentar lagi aku wajib tidur. Itulah salah satu qanun (aturan) ketua ma’hadku yang harus kutaati.

“Sa’ah ‘Asyirah… Sa’ah ‘Asyirah… li kulli ahadin falyarqud (Jam sepuluh… Jam sepuluh. Setiap santri harus segera tidur)” Telingaku menangkap suara keras setengah teriak itu. Itulah nyanyian nina boboku saban hari yang didendangkan oleh qismu tani (tartib wal amni / ketertiban dan keamanan”. Terpaksa aku harus memicingkan mataku yang masih membundar bak bulan purnama. Jam sembilan tadi aku memang sengaja minum secangkir kopi asli Lampung. Aku ingin bergadang semalaman menikmati panorama malam tahun baru kali ini.

****

Setengah jam kemudian paguyubanku berubah menjadi taman pemakaman, sepi nan sunyi. Yang kulihat hanyalah tarian tubuh-tubuh yang lemas lunglai tak sadarkan diri. Yang ku dengar hanyalah dengusan nafas yang berlomba-lomba. Entah apa yang mereka perebutkan.

Sementara itu, di luar sana terdengar suara petasan tahun baru bersahutan. Mesin sepeda motor menderu-deru beriringan. Gelak tawa muda-mudi, tua muda, besar kecil, semua sama, satu tujuan, yaitu menyambut hari bersejarah, tahun baru 2008. Alangkah indahnya panorama malam ini. Ditambah lagi nyanyian rintik-rintik hujan yang bertatapan dengan tanah.

Ah… malang nian nasibku. Aku ingin bersama mereka. Menyalakan petasan. Berkeliling sepanjang jalan Selamet Riyadi dengan motor Jupiterku sambil mendeteng popcorn.

****

“Ayo tunggu apalagi Azkiya! Cepat lari dari tempat ini. Temui teman-teman sejawatmu itu. Untuk apa kamu harus bertahan di tempat memuakkan ini. Bukankah kamu akan bergembira bersama mereka??? Ayo cepat lari! Ayo cepat!!!” Tiba-tiba ku mendengar bisikan yang tak kutahu dari mana asalnya. Bisikan itu masih saja memenuhi daun cupingku. Bahkan menjalar sampai ke ubun-ubunku.

“Ah bajibun kamu! Ingat keluargamu di rumah. Dia mengharapkan kamu! Apa kamu ingin mengkhianati mereka? Ha! Anak tak tau diuntung! Jangan sekali-kali kamu lari dari tempat ini! Ingat itu! Jika tidak, kamu akan menyesal sepanjang masa!” kuncup hatiku.

****

Aku bingung. Kudongakkan kepalaku ke langit yang juga muram berselimut mendung kelabu. Mataku menerawang menjelajah ruang angkasa. Ku cari sebuah jawaban. Mungkin ku akan mendapatkannya di sana. Meski ku yakin pasti dia akan diam seribu bahasa. Tak henti-hentinya kedua bisikan itu bergantian memekakkan telingaku. Yah… mendiang bapakku sebelum meninggalkanku selama-lamanya berpesan agar aku melanjutkan sekolah di ma’had ini. Aku harus lulus dan meneruskan misinya. Aku tak boleh putus asa. Aku harus berusaha sekuat tenaga. Aku harus betah di ma’had ini, meski qanun-qanunnya menyesakkan dada. Bayangkan saja, Aku sama sekali tak boleh turun keluar dari asrama selain ke maktabah (perpustakaan), menemui orang tua jika dijenguk dan keperluan-keperluan yang penting. Tak boleh bawa uang. Jajan dibatesi. Ah… serasa ma’hadku ini bagaikan penjara Guantanamo bikinan Amerika itu. Bahkan mungkin lebih menyakitkan. Aku ingin bebaaaaaaaaaaaasssss.

Tanpa ku duga, aku tak kuasa membendung air mataku yang memaksa turun. Pipiku tertutupi butiran-butiran bening yang menganak sungi. Dadaku berdegub kencang. Relung hatiku penuh kebingungan.

****

“Bek…” sebuah tangan mungil yang tak asing lagi bagiku menyambar pundak kananku.

“Ah ngganggu orang aja, nggak lucu tau!” ujarku ketus kepada si Aisya yang menyadarkanku dari lamunan. Ku coba menyembunyikan rasa sedihku. Tapi.. dasar bangkai, pasti tercium.

“Azkiya… ada apa denganmua? Udah larut malam kok belum tidur? tanya Aisya penasaran. Ada masalah? Aku siap kok menampung curhatmu”.

Aku diam membisu. Tak sepatah katapun keluar dari mulutku. Ku tak ingin dia mengetahui gejolak batinku. Biar kupendam sendiri kesedihan ini. Ku tak ingin membuat orang lain sedih karenaku. Apalagi dia bukan apa-apaku. Dia hanya sebatas teman seperjuangan.

“Ayo… Azkiya… bicara padaku, mungkin aku bisa membantumu. Aku kan sahabatmu? Kan Al-Muslimu Akhul muslim?” bujuknya agar aku mau bercerita. Tapi tetap aku bungkam seribu bahasa. Sepertinya ada yang mengelem mulut manisku.

“Kamu tak kerasan ya?” Ingin bebas seperti mereka! terka Aisya sambil menunjuk arah yang suara riuh itu berasal.

Akhirnya hatiku luluh juga. Ku sadar aku salah. Tak seharusnya aku mengacuhkan uluran tangan sahabat yang benar-benar ingin membantuku. Akupun anggukkan kepala pertanda mengiyakan.

“Ya…, aku tak kerasan. Apalagi dalam suasana seperti ini, Aisyah. Uhu.. uhu.. uhu. Tangisku pecah. Aku ingin bersama teman-temanku di luar sana, menyalakan petasan tahun baru, konvoi berkeliling kota Solo dan….”

“Udah… kamu harus bersabar Azkiya. Aku tau… kita juga anak ABG seperti mereka. Tapi… Kamu jangan samakan dirimu dengan mereka. Bertahun-tahun kamu menuntut ilmu di tempat yang mulia ini. Sudah banyak ilmu yang kau teguk. Merugilah jika kamu ingin seperti mereka. Azkiya… insyaallah, Allah akan membalas jerih payahmu selama ini. Ingat sabda Rasul “Sab’atun yudlilluhumullahu yauma la dlilla illa dlilluh…. Wa Syabbun nasya`a fi ‘ibadatillah…” Sahut Aiysa sebelum ku selesai berbicara.

“Azkiya… sahabatku… apa kamu tidak ingin termasuk dari golongan mereka? Orang-orang yang mendapatkan naungan di hari yang matahari sejengkal di atas ubun-ubun dan tidak ada naungan selain naungan-Nya?!” .

Aku menganggukkan kepalaku.

“Ingat Azkiya… dulu kamu pernah bercerita kepadaku bahwa mendiang bapakmu berpesan supaya kamu melanjutkan misinya. Apa kamu mampu melakukan hal itu tanpa bersusah-susah seperti ini?” tanya Aisya dengan suara parau.

“Azkiya, tak usah kau hiraukan bisikan setan yang menyesatkan nan terlaknat itu. Memang semenjak dia diusir dari taman surga, karena enggan bersujud kepada kakek kita Adam ‘alaihissalam, dia berjanji akan selamanya memusuhi dan menggilincirkan anak cucu Adam ke jurang kehancuran. Dia sama sekali tidak rela jika anak cucu Adam menjadi orang shalih.”

QAALA ARAITAKA HADZALLADZI KARRAMTA ‘ALAIYYA LAIN AKHKHARTANI LA`AHTANIKANNA DZURRIYYATAHU ILLA QALILA.

****

Astaghfirullah… Aku baru sadar jika sedari tadi aku dalam genggaman dan kendali setan terlaknat itu. Ya Allah… ampunilah hamba-Mu yang lemah ini. Kuatkanlah hamba-Mu ini. Jadikanlah hamba-Mu ini bunga karang yang tak patah disambar ombak dan tak lapuk diterpa panas matahari. Ya Allah Yang Maha Kuasa… Tak ada daya dan upaya selain dari pada-Mu.

Aku kembali tak kuasa menahan tetesan butiran bening yang sedari tadi antri untuk turun. Ku dekap erat-erat tubuh jangkung Aisya. Kuluapkan segala isi hatiku dalam kehatangan dekapannya. Dia bagaikan malaikat penyelamat yang dikirim Allah dari langit petala tujuh.

“Jazakillahu khairan ya ukhti. Kamu telah mengingatkanku dari kelalaian ini ” bisikku berterima kasih kepada Aisya.

“Ya… kamu harus sabar Azkiya. Jangan kau kecewakan orang tuamu, terlebih mendiang bapakmu. Kamu harus tegar. Rajin-rajinlah bermunajat kepada Yang Maha Pengasih agar kamu dikaruniai kesabaran dalam melintasi duri ujian dan rintangan ini ” bisik Aisya sambil mengelus-elus punggungku yang bergetar kencang. Lalu diilepaskannya pungguungku. Dia menatap wajahku dalam-dalam. Disekanya air mataku. Dipegangnya erat-erat kedua pundakku. Masyaallah… serasa dia seperti ibuku sendiri. Bunda… ku rindu padamu bunda…

” Sudah sabar ya?! Suara Aisyah memutus kerinduanku. Malam sudah semakin larut Azkiya, mari kita tidur. Supaya nanti kita bisa bangun untuk bertahajjud ” Aisya mengakhiri pembicaraannya. Lalu bayangannnya menghilang di balik pintu besi itu.

Aku pun mengikutinya masuk. Aku tak langsung tidur. Terlebih dahulu ku pergi ke hammam (kamar mandi). Ku hendak mengambil air wudlu. Ku ingin mengadu kepada Sang Pencipta dengan ditemani kesepian malam. Ku angkat tinggi-tinggi lenganku. Kumohon diberi kekuatan untuk semua ini.

****

“Alhamdulillah… Ya Allah… Engkau masih Menyelamatkan hamba malam ini” puji syukurku ke hadirat Yang Maha Pemurah.

Tak lama kemudian aku berkelana di alam ruhku. Ku lihat mendiang bapakku melambai-lambaikan tangannya. Mengisyaratkan agar aku mendekat kepadanya. Seakan-akan dia mengajakku pergi bersamanya. Ia berbusana serba putih. Wajahnya berseri-seri indah seperti bunga sakura di taman surga. Entah ku tak mengerti pertanda apakah ini? Yang penting aku masih selamat malam ini. Alhamdulillah, segala puji hanya untuk-Mu ya Allah.

Surakarta 14 Muharram 1429

Just for My friend in Al-Islam Boarding school

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: